Kumiko Education Center


SampAh SUraBaya-nAgoYa
10 Maret 2008, 3:06 pm
Diarsipkan di bawah: Lingkungan (環境) | Tag: , ,

Beberapa hari ini, aku menjadi tertarik dengan sistem pembuangan sampah di Jepang. Entah mengapa mungkin karena penat melihat tumpukan sampah dan bau busuk di sekitar Surabaya. Satu bulan lalu, saya bersama suami menginap di rumah mertua di dekat kawasan Kenjeran. Tiba-tiba jam 6 pagi saya ingin keliling Kenjeran naik sepeda motor. Ada sekitar 4 desa yang kami lewati, selama perjalanan saya senantiasa tak nyaman bernafas. Sampah-sampah yang menumpuk dan seakan telah membatu itu menyebarkan bau yang amat tak sedap. Got-gotnya dipenuhi sampah dan air yang berwarna pekat. Malah ada yang belum dibangun got untuk aliran air. Belum lagi di pesisir pantai Kenjerannya. Lalu saya minta diantar ke area proyek Suramadu, di situ pun tak kalah parahnya. Pompa airnya tersumbat penuh sampah, dan airnya berwarna gelap sekali (lebih gelap dibanding got-got kecil di beberapa desa tadi).
Memang sampah menjadi masalah pelik di berbagai kota di Indonesia termasuk Surabaya. Kalo ditilik sekilas aja, masalah sampah di Surabaya memang sangat komplek. Mulai dari cara membuang sampah yang tidak benar, alat angkut sampah yang tidak cukup memadai, kurangnya lahan pembuangan sampah, sampai-sampai harus mengorbanban wilayah pinggiran semisal Benowo, yang kini menjadi sanitary landfill yang udah mencapai hingga 2 lapis. Sampai saat ini pengolahan sampah yang sedikit bisa ditiru adalah di kawasan Karah, Jambangan. Dia mempunyai program recycle yang didukung oleh pihak swasta (unilever), namun sayangnya program ini belum menyebar luas karena dukungan dari pihak pemkot kurang.
Saya ga habis pikir lahan pembuangan sampah untuk menampung sampah orang-orang se-Surabaya yang sekarang di Benowo, yang punya luas sekitar 33,3 ha, sudah dipakai hampir 26 ha. Kalo sudah 100% dipakai, lalu akan dibuang kemana sampah orang-orang se-Surabaya beberapa tahun lagi?
Ketika saya kangen dengan Nagoya, saya browshing official web nagoya city. Saya coba cari, dikemanakan sampah-sampah seluruh orang Nagoya. Saya coba cari dimana TPS dan TPA di Nagoya, yang memang belum pernah saya temui selama tinggal di Nagoya. Ternyata saya nggak menemukannya. Yang saya temukan adalah sistem pembuangan sampah dan program recycle. Di sana, masyarakat sudah mendapatkan edukasi untuk memilah sampah sebelum membuangnya. Mereka juga tak sembarangan membuang sampah, mereka mengelompokkannya terlebih dahulu, dan membersihkan dulu sampah yang hendak dibuang. Kapan mereka membuang sampah apa – pun ada jadwalnya. Karena saya dulu tinggal di asrama, saya tak begitu hafal dengan jadwal pembuangan sampah ini. Jadwal tiap kawasan (distrik) memang berbeda, misalnya ada distrik yang pembuangan sampah bisa bakar hari senin dan sampah plastiknya selasa. Sampah-sampah tadi diangkut ke tempat yang telah ditentukan, dan nanti akan ada perusahaan pengolahan sampah yang mengambilnya. Jangan bayangkan tempatnya seperti TPS di Surabaya. Karena orang-orang membuang sampahnya sudah dalam keadaan rapi. misalnya susu kemasan kardus, sebelum kardus dibuang harus dicuci dan dikeringkan dulu, lalu digunting sedemikian rupa hingga mudah dilipat, dan setiap 10 kardus diikat dengan tali rafia. Begitu pula dengan sampah plastik atau kaleng, harus bersih dari sisa makanan.
Sedangkan untuk sampah elektro (misal TV, AC, Kulkas dll), biasanya akan dikembalikan ke toko tempat dulu membeli (ada semacam tiket/brosur) agar bisa membuang sampah dengan gratis, lalu oleh pihak toko akan disetor ke perusahaan industri untuk diproses menjadi produk yang baru.
Di official web nagoya city berkali-kali ada catatan bahwa pengolahan sampah ini tidak diurusi langsung oleh pemkot, namun oleh perusahaan pengolahan sampah.
Kalo di Indonesia ada 2 pengklasifikasian sampah yaitu sampah kering dan basah (inipun tidak dijalankan), di Jepang (Nagoya) ada banyak sekali pengklasifikasian sampah. Dua bulan awal tinggal di Nagoya membuat saya bingung ketika membuang sampah. Ada sampah alami (sisa makanan, kertas yang sudah tak bisa didaur ulang dll), sampah plastik, sampah daur ulang, sampah botol plastik, sampah kaleng kosong, sampah botol kaca, sampah elektro, sampah berbahaya (obat, kosmetik dll) sampai ada sampah tak terkategori dan lain-lain. Seingat saya, di asrama saya ada sekitar 9 tong sampah yang disediakan. Jadi ketika sampah-sampah tadi dibuang, tidak diperlukan lagi pemulung untuk memilah sampah.
Sistem ini pernah dipolingkan di Indonesia, dengan pertanyaan utama apakah masyarakat mau/bersedia melakukan pengklasifikasian sampah? dan rata-rata audience menyatakan bersedia kali tidak rumit sekali sebanyak hampir 50%, hanya sekitar 10% yang menyatakan tidak bersedia, itu pun karena beralasan jika sangat rumit. Kalo menurutku, asal pihak terkait seperti pemkot dan media bisa memberikan edukasi tentang pengolahan/pengklasifikasian sampah dengan serius, program yang sedang dilakukan di Jepang sangat mungkin untuk diterapkan di Indonesia. Emang sistem edukasi di negeri ini punya andil peran yang cukup besar dalam berbagai hal, ga cuma sampah. Ehm….. semoga saja Indonesia akan segera membaik.


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Lho, bukannya Surabaya habis dapat penghargaan dari Jepang karena tingkat partisipasi warganya dalam mengelola sampah. JUga dari Departemen PU. Go Cleen Go Green Surabaya.
Salam kenal.

Kuma :
Memang benar Pak, tapi Insya Allah yang Bapak maksud itu adalah warga yang hanya 1 orang (saya lupa namanya). Beliau menggagas program pengelolahan sampah, tapi masih sangat kecil, hanya di daerahnya saja (daerah Pagesangan-Karah). Tapi masih belum menjadi sistem (pengolahan sampah) untuk Surabaya. Bahkan kegiatan beliau hampir-hampir tidak kelihatan. Kebetulan bapak tersebut mendapat dukungan dari Unilever, tapi belum dapat dukungan dari pemkot Surabaya. Kalo dilihat dari indikasi kebersihan Surabaya, yaitu “Kali Mas” hal ini masih jauuuh sekali.
Saya jadi ingat waktu SD-SMP, dulu Surabaya mendapat Adipura Kencana pertama kali pada saat walikotanya Pak Poernomo Kasidi. Kali mas Surabaya waktu sangat bersih, bahkan pemkot sangat getol menggembar-gemborkan tentang pemisahan sampah kering dan basah. Bahkan ada juga iklannya di TV. Sayangnya program tersebut berhenti, dan jadinya ya….. seperti sekarang ini dech. Belum lagi pembukaan lahan hijau menjadi perumahan elit yang besar-besaran sehingga mengurangi daerah resapan air. Padahal kalo saya lihat, di rumah-rumah elit tadi yang tinggal hanya segelintir orang. Malah banyak yang cuma ditinggali oleh pembokatnya.
Ya… kita berdoa dan berharap saja, Surabaya dan kota-kota lain menjadi lebih baik dari sekarang.
Salam kenal…..

Komentar oleh fotokalipaksi




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>