Diarsipkan di bawah: Pendidikan(教育) | Tag: bahasa Jepang, guru, mengajar, motivasi, sedih, senang
Sudah satu semester lebih kujalani profesi guru di sebuah SMA negeri favorit di Surabaya. Memang, pekerjaan apapun pasti ada sedih dan senangnya. Tinggal kitanya aja yang memanage perasaan dan mood, agar bisa semakin memotivasi diri kita dalam menjalankan tugas. Di sekolah ini saya mengajar baik kelas 1, 2 dan 3 bersama dua guru yang lain.
Sekolah ini mengambil kebijakan bahasa Jepang diajarkan di semua tingkat kelas, kecuali kelas 3 di semester dua karena lebih ditekankan pada persiapan UNAS dan SPMB. Karena kelas 2 dan 3 sudah ada penjurusan, maka tentu ada kelas IPA dan IPS. Kebanyakan guru merasa enggan mengajar di kelas IPS, karena ada asumsi bahwa kelas IPS adalah kelas buangan (karena gagal masuk IPA), dan memang di sekolah ini, hal tersebut adalah sebuah kenyataan meski ada beberapa siswa yang memang sejak awal punya niat masuk IPS dan serius masuk IPS. Banyak juga guru yang berkomentar, kalo mengajar di IPS pengelolahan kelasnya lebih lama daripada proses mengajarnya. Dan ternyata kenyataan ini saya hadapi saat ini. Dari nilai akademiknya saja, sudah dapat diterka. Ketimpangan nilai rata-rata kelas IPA dan IPS untuk mata pelajaran bahasa Jepang lumayan besar, yaitu mencapai 20 poin. Padahal saya berusaha mengajar dengan porsi yang sama. Memang saya sering mengalami kesulitan dalam mengelola kelas IPS, seperti yang dieluhkan guru lain. Salah satu contohnya metode game yang saya pakai di kelas selain IPS, bisa berjalan lancar. Namun jadi berantakan ketika saya coba terapkan di kelas IPS. Ketika menjelaskan sesuatu, seringkali saya harus menggedorkan penghapus ke papan atau ke meja, agar siswa tenang dan memberikan atention-nya. Memang mereka akan tenang sesaat, ketika beberapa menit saya menerangkan, keramaian kelas dimulai lagi. Ehm… capek memang.
Menghadapi berbagai komentar guru dan komentar banyak orang di sekitar saya tentang kelas IPS, sempat membuat saya kecut dan ikutan timbul perasaan enggan dan malas memasuki kelas IPS. Selama satu semester lebih saya merasa ada sedikit tekanan ketika melangkahkan kaki ke kelas IPS. Padahal saya berusaha mengeluarkan capabilitas yang saya punyai (meski ga bagus-bagus amat), untuk membuat anak-anak di kelas sosial ini mendengarkan penjelasan gurunya dan konsentrasi dari awal hingga akhir pelajaran. Namun ternyata kemampuan saya belum sampai ke sana, saya masih butuh banyak belajar.
Akhirnya di tengah penat memikirkan kelas sosial, mulai 3 minggu lalu saya memilah anak-anak yang mau serius belajar. Mereka saya suruh menempati bangku di depan, dan yang tidak atau kurang niat belajar saya suruh duduk di belakang. Hanya sekitar 10 orang dari 38 siswa yang duduk di depan. Walhasil, saya hanya mengajar 10 siswa saja. Sama sekali tak saya hiraukan para siswa yang duduk di belakang, sampai jam saya habis. Minggu berikutnya saya tidak mengajar karena sakit. Lalu kemarin ketika saya memasuki kelas ini, kembali saya coba terapkan metode di atas, dan kali ini kebalikannya. Hanya sekitar 10 siswa yang duduk di bangku belakang, selain mereka menyatakan dirinya berniat belajar. Meski masih agak sedikit ramai, ternyata kelas berjalan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada perasaan senang dan mengguyur hati saya ketika itu.
Saya cuma berharap semoga suasana kelas sosial seperti ini akan bertahan lama, dan semakin lebih baik. Anggapan bahwa kelas IPS adalah kelas buangan harus dibuang jauh-jauh, baik dari benak guru, siswa dan orang tua. Toh tidak berdosa siswa yang masuk IPS. Kelas IPS juga kelas yang bagus, sama bagusnya dengan IPA karena sama-sama punya prospek ke depan. Buktinya, banyak lulusan IPA yang ketika kuliah memilih jurusan IPS. Malah yang jebolan IPA atau teknik ketika kuliah pun, banyak yang akhirnya kerja di bidang sosial, semisal kerja di bank atau bagian managemen. Dan memang kalo kita tilik lebih lanjut, prospek kerja untuk sosial memang jauh lebih besar dari bidang sience atau teknik. Kalo ga percaya, bisa kita search lowongan pekerjaan, banyak yang menawarkan pekerjaan di bidang sosial. Semoga saja, saya terus bisa memompa semangat dan motivasi, di mana pun kelasnya, baik IPA maupun IPS. (Zk).
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


prospek kerja bidang sosial memang lebih besar, tapi buat anak SMA orentasinya cuma IPA,,
terus semangat berjuang bu jadikan anak Indonesia manusia yang cerdas seutuhnya,,
Kuma (Zulaikha) :
Memang, saya juga pernah menjadi siswa SMA. Saat itu saya punya pendapat yang sama : orientasi IPA. Sebenarnya boleh-boleh aja berorientasi ke sana, ga dilarang memang. Cuman dampak dari orientasi yang berlebihan membuat kelas IPS menjadi negatif. Siswa sering tertekan baik oleh kondisi sekolah, guru maupun orang tua. Bahkan bisa membuat PD dan semangat anak yang pengen IPS kendor. Ada beberapa siswa saya di kelas IPS yang awalnya semangat sekali, karena memang mereka berniat sejak awal masuk IPS. Namun karena persepsi yang salah terhadap kelas IPS, misal ejekan teman (yang di IPA), teguran guru (pintar kok masuk IPS?), atau tekanan yang lain, sedikit banyak memberikan pengaruh pada semangat belajarnya. Bahkan ada yang mengaku ke saya, dia jadi kurang bersemangat belajar, apalagi di kelasnya banyak “anak buangan” yang malas dan ogah-ogahan belajar, sehingga mengganggu konsentrasinya, dan lama-lama dia agak tertular virus malas ini.
Terima kasih untuk dukungannya. Semoga saya dan insan edukasi yang lain bisa berusaha bersama-sama untuk menuju yang lebih baik. Gambarimashou!
Komentar oleh petak 14 Maret 2008 @ 2:53 pm