Ketuban pecah terjadi alami pada proses persalinan. Bagaimana jika pecahnya lebih dini? Bisakah gejalanya dikenali?
“Dokter, saya mengeluarkan cairan dari vagina dan keluar begitu saja seperti mengompol,” keluh Ibu Nababan yang tengah hamil dengan nada khawatir.
Apa yang dialami Ibu Nababan bisa disebut sebagai ketuban pecah dini. Tidak mulas, tanpa sakit, tapi ada semacam cairan yang merembes keluar dari vagina. Keluarnya cairan tersebut tidak terasa dan tidak dapat ditahan oleh ibu hamil.
Menurut Dr. S.B. Wahyudi, Sp.OG, dari RS Husada, yang dimaksud ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan. Robeknya kantung ketuban sebelum waktu melahirkan tiba memang sulit diketahui gejalanya. Yang pasti, banyak akibat yang ditimbulkan dari pecahnya ketuban dini ini.
FUNGSI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus.
Pada kehamilan, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari “lingkungannya”. “Air ketuban pun membuat janin bisa bergerak dengan bebas ke segala arah, tidak ada kompresi terhadap janin sehingga dapat berkembang dengan baik,” ujar Wahyudi.
Kecuali itu, air ketuban dapat menyebarkan tekanan bila terjadi trauma, juga sebagai penyangga terhadap panas dan dingin. Pada saat proses persalinan, air ketuban memberikan kekuatan mengejan sehingga serviks dapat membuka, membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan sebagai desinfektan, dan sebagai pelicin saat kelahiran.
Dokter pun bisa mendeteksi janin melalui cairan ketuban ini. Dari mulai mendeteksi jenis kelamin, kematangan paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan sebagainya. Cara mendeteksinya dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Jumlah cairan ketuban ini beragam. “Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter,” jelas lulusan FK Universitas Diponegoro, Semarang. Bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Jika dilihat lebih teliti terdapat lanugo (rambut halus janin) dan verniks caseosa(sel-sel epitel dan lemak pada kulit bayi).
Janin meminum cairan ketuban ini, sehingga terjadi refleks menelan dan bernapas sejak dini. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam. “Jika janin tidak menelan air ketuban, maka volumenya bisa banyak,” jelas Wahyudi.
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya produksi air ketuban berlebihan (hidramnion). Hal tersebut terjadi karena adanya cacat pada bayi, misalnya kepala yang tidak terbentuk. Penambahan air ketuban ini bisa mendadak dalam beberapa hari atau secara perlahan-lahan. “Terkadang pada kehamilan yang post mature (lebih dari usia kehamilan) akan terjadi pengurangan air ketuban, karena terjadi resorbsi yang lebih banyak pada bayi,” jelas Wahyudi.
Pemeriksaan air ketuban dilakukan berbarengan dengan persalinan, merasakan kontraksi pertamanya dalam waktu 12 jam, sebagian dalam waktu 24 jam tapi ada juga yang lebih lama sampai tibanya persalinan.
Ciri-cirinya antara lain terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas, berbeda dengan bau air seni. Alirannya tidak deras keluar, kecuali bila ibu hamil dalam posisi berbaring. Karena ketika ibu hamil berjalan atau duduk, kepala janin cenderung menutupi muara rahim seperti sumbat botol. Selain itu, juga karena tidak ada kontraksi yang mendorong keluarnya cairan tersebut. Untuk lebih memastikan bahwa itu adalah air ketuban, dilakukan dengan tes ferning atau tes nitrazine.
Pada umumnya, menurut Wahyudi, ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini, yaitu premature rupture of membrane dan preterm rupture of membrane. Gejalanya sama, yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. “Baru setelah itu akan terasa sakit karena adanya kemungkinan kontraksi,” jelas Wahyudi.
Robeknya kantung ketuban biasanya terjadi seusai trauma, misalnya ibu hamil terjatuh atau terbentur di bagian perut. Ketuban pecah dini juga bisa terjadi karena mulut rahim yang lemah sehingga tidak bisa menahan kehamilan.
Bisa juga karena ketegangan rahim yang berlebihan, seperti kehamilan ganda atau hidramnion, kelainan letak janin seperti sungsang atau melintang, atau kelainan bawaan dari selaput ketuban. Bisa pula karena infeksi yang kemudian menimbulkan proses biomekanik pada selaput ketuban sehingga memudahkan ketuban pecah.
Namun, adakalanya hanya terjadi kebocoran kantung ketuban. Yang terjadi, cairan ketuban merembes sedikit demi sedikit, tanpa disadari oleh si ibu hamil. Akibatnya, cairan ini makin berkurang jumlahnya. Bahkan, menjadi habis. Si ibu baru merasakan perih jika si janin bergerak.
AKIBAT YANG TIMBUL
Pemeriksaan dokter akan menentukan apakah janin masih “aman” untuk tetap tinggal di dalam rahim atau sebaliknya. Umumnya setelah ketuban pecah, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih, berarti keadaan janin masih baik. “Ibu hamil bisa mempertahankan kehamilannya,” jelas Wahyudi.
Langkah selanjutnya dilakukan terapi. Jika kehamilan kurang dari 38 minggu akan dilakukan metode konservatif. Ibu hamil diwajibkan istirahat, dibantu dengan pemberian obat-obatan yang tidak menimbulkan kontraksi, biasanya melalui infus.
Bila si bayi belum cukup besar, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mematangkan paru-parunya agar jika terpaksa dilahirkan, janin sudah siap hidup di luar rahim ibunya. Kecuali itu, ibu pun akan diberi antibiotika untuk mencegah infeksi.
Umumnya cara ini berhasil dilakukan. Melalui bed rest, air ketuban dicegah keluar dalam jumlah lebih banyak. Sementara itu, lapisan kantung yang sebelumnya terbuka pun akan menutup kembali. Cairan ketuban akan dibentuk kembali oleh amnion, sehingga janin bisa tumbuh lebih matang lagi.
Sebaliknya, bila jumlah air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan berisiko asfiksia. Perlu diketahui, air ketuban berwarna putih jernih. Jika air ketuban berwarna hijau, bisa membahayakan janin. Hal semacam itu yang biasanya membuat persalinan dipercepat, baik persalinan alami lewat vagina maupun operasi Caesar. Karena jika kehamilan diteruskan justru akan membahayakan keduanya, ibu dan janin. Bukan tidak mungkin justru berakhir dengan kematian.
Melihat akibatnya yang tidak ringan, segeralah ke dokter jika dicurigai ketuban pecah. Begitu pula jika mengeluarkan cairan yang tidak diketahui penyebabnya. Apa pun juga, bantuan medis amat diperlukan dalam kondisi seperti itu.
Dedeh Kurniasih. Foto : Rohedi (nakita)
Menghadapi Ketuban Pecah Dini
Pemeriksaan Rutin
Lakukan pemeriksaan paling sedikit 3 kali dalam satu kehamilan. Pemeriksaan 16 minggu, 28 minggu, dan 32 minggu. Dengan pemeriksaan yang baik, tumbuh kembang janin dalam rahim dapat terdeteksi. Begitu pun banyak sedikitnya air ketuban dapat dideteksi.
Segera ke Dokter
Jika terdapat tetesan atau aliran cairan dari vagina, segera periksa ke dokter.
Hindari Infeksi
Usahakan daerah vagina selalu bersih untuk menghindari infeksi. Bersihkan selalu daerah ini dari arah depan ke belakang. Jangan sekali-kali melakukan dengan gerakan sebaliknya.
“Puasa”
Untuk sementara waktu, hindari melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah.
Istirahat
Istirahatlah sesuai anjuran dokter. Jangan merasa diri wanita super dengan melakukan semua kegiatan. Ingatlah, setiap kehamilan selalu berbeda. Jika Anda melihat teman lain tetap “perkasa” saat hamil, Anda tidak harus menjadi demikian.
Menjaga Kebersihan
Bila cairan ketuban merembes, gunakanlah pembalut yang dapat menyerap air ketuban. Pada minggu-minggu terakhir kehamilan sebaiknya gunakan pembalut tipis pada celana dalam agar membuat Anda merasa bersih dan segar. Sebab, pada umumnya pengeluaran cairan dari vagina akan lebih banyak. Penggunaan pembalut ini pun berguna untuk memudahkan Anda membedakan cairan ketuban dengan cairan lain dari bau serta warnanya. (from : yuwielueninet.wordpress.com)









isteri keponakan saya mengalami pecah ketuban dini sehingga menyebabkan anak yang lahir susah nafas. kata dokter mesti dioperasi.Apa betul dengan operasi bisa sembuh
Komentar oleh Martinus 16 September 2008 @ 1:34 pmMakasih infonya..kemarin istri saya juga mengalami hal yg sama..ada cairan di jalan lahir bayi..sempat panik juga trus bawa ke RSU di usg ma dokter alhamdulillah air ketubannya masih banyak dan disaranin untuk bed rest aja..
Komentar oleh Khamdan Syakiri 6 Juli 2009 @ 9:22 amSetahu saya, jika ketuban atau kantung ketuban pecah duluan sebelum waktunya, air ketuban bisa habis. Bakteri akan gampang masuk ke tubuh janin. Padahal air ketubanlah yang menetralisir bakteri dan kuman yang lain. Selain itu, air ketuban jg punya fungsi pembantu daya dorong pada saat melahirkan.
Komentar oleh dHony-kUma 9 Juli 2009 @ 2:58 pmSaya juga sempat disinyalir bahwa air ketuban saya merembes, bukan pecah. Saya disarankan tidak banyak gerak. Banyak tidur miring ke kiri, supaya kantung ketuban tidak pecah.
Sebelum saya melahirkan, ada ibu-ibu sebelum saya dilarikan ke rumah sakit. Rupanya ibu tadi mengalami perembesan air ketuban. Ibu tersebut menuruti perkataan orang tuanya untuk banyak jalan dan merangkak selama di rumah, eh ga tahunya air ketubannya malah habis. Alhasil dilarikan ke rumah sakit untuk operasi. Bayinya saya dengar terlahir dengan selamat, meski agak biru pada awalnya.
terima kasih atas segala info yang diberikan, sehingga menambah pengetahuan saya sebagai calon ibu….
Komentar oleh rafa 27 Agustus 2009 @ 12:05 pmSama-sama, kami doakan agar ibu dan calon bayinya nanti, akan terlahir dengan selamat, sehat wal afiat tak kurang suatu apapun …
Komentar oleh dHony-kUma 28 Agustus 2009 @ 7:45 amSama-sama. Kami juga berharap semoga bayi yang ibu kandung bisa lahir dengan selamat dan sehat wal afiat tanpa kekurangan suatu apapun, dan menjadi cahaya di keluarga. amin
Komentar oleh dHony-kUma 28 Agustus 2009 @ 7:50 amSaya, adik dari kakak saya yg baru melahirkan.
Komentar oleh Sofiya 26 Oktober 2009 @ 10:31 pmSaya hanya ingin tanya, kakak saya air ketubannya pecah, dan dokter langsung menyarankan operasi.
Nah, yg jd pertanyaan saya, apakah bisa menghindari operasi walau air ketuban sudah pecah? apa resikonya kalau ibu tetap mau ngotot melahirkan alamiah saat air ketuban sudah pecah?
Tergantung kondisi bayi dan ibunya. Air ketuban salah satu fungsinya untuk menetralisir kuman dll, jika air ketuban tidak ada dan bayi terlalu lama di dalam, bayi bisa biru dan ada kemungkinan keracunan. Bayi pun bisa kisut.
Komentar oleh dHony-kUma 5 November 2009 @ 8:39 amAda baiknya menuruti nasehat dokter. Semoga kakak Sofiya diberi kesehatan amin.
hari ini sepupu saya dbawa ke rs krn td sore air ktuban mrembes dr jalan lahir..ssampai di rs trnyata bru buka 1.smntara dia blm mrasa sakit/kontraksi..
Komentar oleh mama nasya 23 April 2010 @ 9:51 pmSaya doakan semoga sepupu mama nasya diberi kekuatan dan bisa melalui masa sulit ini dengan selamat. Baik ibu maupun bayinya….
Komentar oleh dHony-kUma 12 Juni 2010 @ 9:40 pmKakak saya saat ini udah pecah ketubannya tapi baru bukaan 3.. sekarang saya lg di kantor jd ngg bisa mantau
Komentar oleh monica 10 Juni 2010 @ 2:50 pmemang dokter memberikan pilihan operasi untuk penyelesaian bila dalam beberapa menit ini ngg tambah bukaannya,,
Ya Allah saya deg2an ini….. T_T
Apapun solusi dari dokter, Insya Allah adalah jalan yang terbaik. Memang, kalau ketuban pecah, si bayi mau tidak mau harus dikeluarkan.
Komentar oleh dHony-kUma 11 Juni 2010 @ 9:44 pmSaya doakan kakak Monica kuat. Semoga Allah memberi keselamatan bagi mereka berdua. Mbak Monica, terus berdoa ya….beri dukungan semaksimal mungkin.
dlu pas saya melahirkan anak pertama, air ketuban saya juga pecah sbelum waktuny. pkul 4 subuh saya mendengar ada sesuatu yg pecah didlm rhim saya, trus ada bercak darah. saya yakin klo itu air ketuban.
langsung aja saya bawa ke bidan. untungny rumah bidan tsb depan rumah saya. saya diperiksa msih pembukaan 1, saya hany disruh brbaring dan miring ke kiri, ke kanan brgantian supaya mmpercpat proses pembukaan. pkul 10 pagi saya sudah pembukaan 3 disertai kontraksi2.
pada waktu itu saya dibritahu kalau sampai pkul 14.00 blm mlhirkan, saya akan dibwa ke RS. tp saya yakin aja pd yg di atas. saya sholawat trus, alhamdllh anak saya lhir normal dg selamat pada pukul 12.30 siang, dg berat badan 3,3 kg.
Komentar oleh susi 10 Februari 2011 @ 7:12 pmistri saya udah 37 minggu, tapi skrg kok jadi kencing terus menerus y, beberapa menit sekali kencing terus,, tolong bantu di jelaskan karena saya ga tau apa yang terjadi,, mau ke dokter tapi sekarang jem stngh 2 pagi, thanks
Komentar oleh alex 10 Desember 2010 @ 1:40 amTerimakasih atas kunjungannya.
Komentar oleh Kuma 10 Desember 2010 @ 2:01 amPada saat kehamilan berusia 6 bulan ke atas, memang ada kalanya mengalami seperti anyang-anyangen (b Jawa) atau sering buang air kecil. Hal ini juga saya alami saat usia kehamilan saya menginjak bulan ke-7. Menurut bidan, hal tersebut wajar karena kandung kemih tergencet oleh perut/rahim yang semakin membesar. Memang agak ribet ya Pak, harus sering-sering ke kamar mandi. Apalagi dulu posisi saya juga bekerja. Jadi, harus membawa handuk kecil terus, untuk menjaga agar tdk lembab.
Tidak ada salahnya juga, jika bapak dan istri berkonsultasi lebih lanjut ke dokter, jika ada sesuatu yg dikhawatirkan. Semoga kondisi janin, dan istri akan baik-baik saja. Amin.
Aku hamil 36 minggu, dan coba “berhubungan” sama suami tapi keluar cairan seperti air ketuban keluar banyak banget.. Tapi setelah itu perut bawah saya sakit seperti kontraksi? Sudah 4 x saya mengalami seperti ini dan saya belum kedokter karna saya bingung harus bagaimana karna ini kehamilan pertama jadi saya masih kurang ngerti.. Tolong kasih jwaban ny ya??
Komentar oleh putri 2 September 2011 @ 3:27 pmSaya tidak tahu cairan apa yg sebenarnya Mbak Putri. Justru karena ini kehamilan pertama, Mbak lebih baik periksa ke dokter. Kalau perlu USG. Apalagi sampai terjadi 4 kali. Smg kehamilan Mbak Putri baik-baik saja. Saran saya, cepat ke dokter.
Komentar oleh Kuma 3 September 2011 @ 6:07 pmIstri saya skrg sdg penangan bidan, karna terindikasi pecahnya ketuban, dan sekarang mash bukaan 1, yg saya tanyakan, masih adakah kemungkinan untk lahiran secara normal? Trmksh
Komentar oleh Muji 3 September 2011 @ 11:52 pmKalau bicara kemungkinan, segalanya mungkin Pak. Berdoa kepada Tuhan. Karena Tuhan punya kuasa atas apapun. Saya doakan semoga istri Pak Muji bisa selamat, demikian pula dg si bayi sehat walafiat. Amin
Komentar oleh Kuma 4 September 2011 @ 7:02 pmsy masih bingung membedakan antara cairan ketuban yg merembes dgn keputihan. krn yg sy alami itu terdapat cairan putih (seperti susu) di sekitar lipatan miss “v”, (apalagi klo ibu hamil menurut info yg yg baca wajar saja mengalami keputihan asal tdk berbau & gatal)..
Komentar oleh wulan 3 Oktober 2011 @ 11:31 amsetahu saya, kalau lengket/kental itu adalah keputihan. Kalau encer ada kemungkinan ketuban merembes. Kalau masih tidak yakin, bisa diperiksanakan ke dokter.
Komentar oleh Kuma 3 Oktober 2011 @ 1:14 pmAsskum. Nama saya Pipit Puspita,umur 27
Komentar oleh pipit puspita 20 Oktober 2011 @ 8:23 pmsaya hamil 7 bulan. yang saya tanyakan, pada bulan-bulan sebelumnya saya terkadang merasakan gatal-gatal pada vagina. selain itu juga kadang mengeluarkan cairan semacam lendir, tapi tidak gatal. saya tidak tau menahu tentang hal ini. tolong jelaskan. trima kasih
Kemungkinan itu adalah keputihan. Memang banyak kasus ibu hamil yang keputihan. Untuk sementara ini, Ibu Pipit jaga kebersihan daerah vagina. Vagina harus selalu dlm kondisi bersih dan kering. Sering-seringlah ganti celdam, jika terasa agak lembab. Kebetulan, saya pun mengalaminya semenjak kehamilan 6 bulan. Untuk lebih jelasnya, alangkah lebih baik ibu ke bidan atau tenaga kesehatan yang lain. Semoga lekas sembuh ya Bu.
Komentar oleh Kuma 21 Oktober 2011 @ 7:41 pmbagaimana sih ciri-ciri air ketuban, warna, baunya?
Komentar oleh piya 11 November 2011 @ 11:28 amsetahu saya tidak berwarna dan tdk berbau, jika kondisi ketubannya bagus. Jika ada masalah, ada yg berwarna keruh sampai hitam.
Komentar oleh Kuma 14 November 2011 @ 4:12 amAss, nama saya syofi, umur 24 th
Komentar oleh w1nto 17 November 2011 @ 2:18 pmsaya hamil 3,5 bln. yang saya tanyakan…
ada cairan yg keluar dr “v” saya.. keluarnya gak banyak dan jarang… biasanya keluarnya klo saya lg beraktifitas kerja… klo lh istirahat gak pernah keluar… cairannya bening tdk berbau..
apakah ini cairan ktuban?? mohon sarannya… trims
Wah, untuk lebih jelasnya mending ke bidan ato ke dokter. Karena bisa aja itu keputihan biasa.
Komentar oleh Kuma 19 November 2011 @ 4:20 pmsaya hamil 33 minggu,dari mulai kehamilan 6 bulan sering keluar cairan bening tidak berbau,sudah saya konsultasikan ke dokter,katanya air ketubannya masih banyak dan jernih. Akhir2 ini makin sering dan banyak sehingga saya harus menggunakan pantyliner. Apakah saya perlu periksa ke dokter lagi,karena minggu kemarin baru dari dokter. Apakah itu berarti air ketuban saya merembes? Trima kasih atas jawabannya.
Komentar oleh nina yuanita 7 Februari 2012 @ 2:58 pmlebih jelasnya ke dokter lagi aja Bu. Karena kalo hanya lewat tulisan begini, ndak jelas. Takutnya gambaran saya beda dg kenyataan. Smg diberi kesehatan kehamilannya.
Komentar oleh Kuma 12 April 2012 @ 11:25 amSaya nina bukan mw mengirimkan komentar. Tetapi ingin bertanya. Apakah bocor ketuban tu bs ditandai dgn seringnya seorang ibu hamil, buang air kecil? To tdk ak hubungannya dgn sering buang air kecil. Sebelumnya terima kasih
Komentar oleh nina aulia 23 Februari 2012 @ 9:20 pmibu hamil memang sering buang air kecil. Karena kandung kemihnya tergencet bayi yang makin besar.
Komentar oleh Kuma 21 Maret 2012 @ 6:06 pm