Diarsipkan di bawah: pendidikan(教育) | Tag: biologi, karya tulis, penelitian, scientist
Dhony Firmansyah, S.Si
Disampaikan dalam PKM Biologi FMIPA UNESA
24 Mei 2008
Seorang scientist harus memiliki jiwa yang peka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Seorang scientist juga dituntut supaya mampu mengungkapkan analisa dan solusi terhadap suatu permasalahan dengan terstruktur dan rapi. Tuntutan yang ideal bagi seorang scientist. Kita sendiri sadar, tidak semua dari kita memiliki kemampuan tersebut, secara komplit. Namun, kita sendiri juga mengetahui, kemampuan menulis, menganalisa, dan memberikan persuasi yang tajam, tidak muncul dengan sendirinya. Perlu sebuah upaya untuk mewujudkannya. Bila kita merasa masih belum memiliki kemampuan tersebut, salah satu atau bahkan ketiganya. Satu-satunya cara adalah melatih diri kita untuk memunculkannya. Ya, menjadikan diri kita sebagai seorang scientist yang ideal. Baik dalam menulis, menganalisa problem, maupun memberikan presentasi yang memukau.
Tulisan yang ada di hadapan anda ini, bukanlah sebuah deskripsi tentang penulisan Karya Tulis Ilmiah yang runtut dan analitif, meski di bagian akhir tulisan, penulis akan memberikan sedikit gambaran tentang metode penulisan Karya Tulis Ilmiah. Insya Allah, untuk lebih jelasnya, bisa anda simak dalam presentasi penulis. Susunan kalimat demi kalimat dalam tulisan ini akan mengarah kepada motivasi dan sharring penulis, untuk menggugah jiwa seorang scientist, pada diri mahasiswa. Mengajak berbagi pendapat tentang upaya membangkitkan iritabilitas dan semangat dalam berkarya dan berinovasi. Tentunya ini semua boleh kita raih, asal tidak menafikan keberadaan Allah SWT yang memberikan kelapangan berpikir bagi kita.
Iritabilitas pada Problem
Mahasiswa identik dengan intelektualitas. Peka terhadap berbagai permasalahan dan tanggap dengan fakta yang ada. Mahasiswa juga diklaim sebagai intelektual muda yang mobil, kaya akan imajinasi dan inovasi terbaru. Namun, perlu disadari, tidak semua mahasiswa se-ideal apa yang digambarkan. Tidak sedikit pula mahasiswa yang memiliki problem mendasar. Kurangnya informasi dan minimnya keahlian, menjadikan mahasiswa menjadi inferior dan malas untuk berkembang. Mendapatkan IPK yang tinggi dan menguasai teori dalam perkuliahan, menurut mereka sudah cukup. Proses belajar di kampus, semata-mata menjadikan nilai A atau B sebagai tujuan akhir.
Hal ini sangat disayangkan. Mengingat masa mahasiswa adalah puncak edukasi seorang remaja yang dinamis dan idealis. Seyogyanya, era mahasiswa dijadikan momen investasi untuk menimba kemampuan dan skill, baik dalam disiplin ilmu yang dimiliki maupun dalam pengembangan keahlian yang tidak berhubungan langsung dengan disiplin ilmu tersebut. Seorang Biolog, sebagai pemegang kaidah dasar disiplin ilmu Biologi, juga dituntut hal yang sama. Jalur ilmu Biologi, membuat seorang mahasiswa dapat menguasai ekologi, mikrobiologi, fisiologi hewan dan tumbuhan, anatomi, klasifikasi dan sebagainya. Tentunya, hal tersebut mutlak menjadi kebutuhan primer seorang Biolog sebagai pemegang paten disiplin ilmu Biologi. Lain halnya dengan kemampuan teknologi informasi, manajemen perusahaan, skill presentasi, bahasa pemrograman dan lain-lain, yang tidak berhubungan dengan ilmu Biologi. Hal-hal tersebut tidak akan pernah dimiliki oleh seorang mahasiswa Biologi, bila dia tidak mengembangkan sendiri kemampuan tersebut, diluar jam perkuliahan. Mengapa kita perlu mengungkap hal ini sebagai dasar awal pembahasan penulisan Karya Tulis Ilmiah? Jawabannya mudah, apabila seorang mahasiswa tidak peka terhadap kebutuhan dirinya sebagai seorang intelektual muda, tentunya pemikiran ke arah penulisan Karya Tulis Ilmiah tidak akan pernah terbersit dalam benaknya. Demikian pula dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang lain.
Seorang intelektual yang sejati adalah seorang yang peka terhadap kondisinya, keadaan sekitar dan berupaya untuk memajukan potensi dirinya. Dia akan sangat “rakus” dengan ilmu pengetahuan yang melimpah di sekelilingnya. Sebaliknya, seorang mahasiswa yang hanya berkiblat dengan orientasi nilai kuliah, tidak dapat disebut sebagai seorang scientist yang sejati. Pengembangan ilmu pengetahuan yang dia miliki akan terhenti, ketika dia keluar dari bangku perkuliahan. Tidak jarang, mahasiswa yang hanya mengandalkan kemampuan di bangku kuliah, bisa menjadi shock dengan kehidupan riil masyarakat selepas lulus kuliah. Sehingga, sebelum mencoba menulis Karya Tulis Ilmiah, hendaknya seorang mahasiswa memahami problem hakiki yang ada dalam dirinya dan lingkungannya.
Menulis Karya Tulis Ilmiah
Seorang mahasiswa yang berani mengekspos kemampuannya dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah, merupakan salah satu bukti kepekaan mahasiswa terhadap sebuah problem, dan mencoba memecahkan problem tersebut sesuai dengan inovasinya. Sebuah problem akan dapat dia jumpai ketika seorang mahasiswa mencoba mengeksplor lingkungan yang ada. Mencari informasi tentang potensi yang belum tergali dari lingkungan. Sebagai sebuah upaya penyelesaian permasalahan secara ilmiah.
Menulis Karya Tulis Ilmiah, tidaklah sesulit yang dipikirkan, namun juga tidak semudah yang dibayangkan. Menulis KTI akan sangat sulit, ketika kita sangat minim informasi dan sangat malas untuk menemukan hal yang baru. Sebaliknya, menulis KTI akan mudah ketika kita mau memaksakan diri untuk menggali informasi dari berbagai media. Sebuah ide dalam menulis KTI akan muncul, bila asupan informasi ilmiah hadir di benak seorang mahasiswa dan tentunya ini berawal dari kerja keras. Tidak berleha-leha.
Mengenai format penulisan Karya Tulis Ilmiah, hal ini sangat mudah dipelajari. Baik dari Karya Tulis yang bisa kita jumpai di perpustakaan, maupun dengan membaca deskripsi metode penulisan KTI. Sebagai pembanding, penulis menghadirkan ringkasan penulisan KTI sebagai berikut:
Format penulisan KTI secara umum,
· Tulisan dibagi menjadi beberapa bagian (bab, pasal, ayat, paragraf atau alinea). Tiap bagian merupakan suatu kesatuan terbuka, artinya berkaitan dengan bagian sebelumnya sebagai penerus, dan berkaitan dengan bagian berikutnya sebagai pendahulu. Pada umumnya pembagian format KTI sebagai berikut, yaitu:
a. Pendahuluan (pengantar)
b. Tubuh tulisan yang terbagi menjadi
1. Tinjauan pustaka
2. Sifat obyek penelitian (bahan penelitian atau keadaan wilayah penelitian)
3. Metodologi (metode) penelitian
4. Hasil penelitian
5. Pembahasan
c. Kesimpulan (boleh ditambah pendapat atau saran)
· Fungsi tiap bagian
a. Pendahuluan
Menguraikan latar belakang pemilihan persoalan; maksud, tujuan dan ruang lingkup penelitian; keterbatasan ungkapan; batasan pengertian; teori dan hipotesis.
b. Tinjauan Pustaka
Membentangkan intisari pengalaman yang terpaut, penelitian terdahulu, dan nilai informasi yang ditemukan dalam bahan pustaka dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan.
c. Sifat obyek penelitian
Menjelaskan kekhususan berkenaan dengan persoalan yang dipilih dan dengan maksud dan tujuan penelitian; menunjukkan faktor-faktor yang berkaitan dengan kakikat obyek penelitian yang mungkin berpengaruh atas hasil penelitian.
d. Metodologi penelitian
Bab ini dapat dipecah menjadi beberapa pasal, tergantung pada keragaman metodologi yang digunakan
1. Pasal pertama
Menguraikan tata kerja lapangan, mencakup pemilihan daerah kerja, metode pengumpulan cuplikan (sampel), macam cuplikan, sistem pengamatan, pemilihan parameter penciri, dan teknik pengamatan parameter.
2. Pasal kedua
Menguraikan tata kerja laboratorium, studio dan atau percobaan (rumah kaca dan atau stasiun lapangan).
3. Pasal ketiga
Mengutarakan pengolahan data, termasuk analisis matematika dan statistika; penjelasan tentang pengujian hipotesis.
e. Hasil Penelitian
Memuat data mentah dan yang sudah diolah. Bila data mentah terlalu banyak, dapat dipindahkan menjadi lampiran. Hasil olahan data dapat berupa tabel, diagram, kurva dan atau persamaan atau fungsi matematik. Bila perlu, dapat dilengkapi dengan foto-foto.
f. Pembahasan
Memuat penafsiran makna hasil penelitian berkenaan dengan menjawab hipotesis dan implikasinya atas teori atau kaedah yang belaku sekarang. Selain itu juga dikemukakan, bila ada, segi-segi persoalan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Terkadang, pembahasan disatukan dengan hasil penelitian, dengan maksud merangkaikannya sekaligus dengan pengolahan data.
g. Kesimpulan
Mengutarakan gagasan khusus berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan, antara lain memastikan atau meragukan teori atau kaedah yang berlaku sekarang. Implementasi hal tersebut adalah dalam pemecahan persoalan sejenis, manfaat yang dapat dipetik dari hasil penelitian, baik yang langsung maupun tidak langsung, dan arah pengembangan penelitian yang diperlukan. Kesimpulan bukanlah ringkasan.
h. Ringkasan
Dapat ditambahkan ringkasan, karena ringkasan seringkali sangat berguna. Bagi pembaca yang berilmu sebidang atau berkaitan, ringkasan menjadi penentu berminat atau tidaknya mereka membaca seluruh tulisan. Bagi pembaca dari disiplin ilmu yang lain, ringkasan menjadi sumber informasi yang sangat berguna. Ringkasan adalah perasan hal uraian yang memuat hal-hal paling pokok dalam tiap bagian.
Penulis berharap, sedikit informasi ini dapat menjadi pelecut bagi kita untuk selalu mengembangkan potensi diri. Tidak ada kata terlambat, ketika kita masih mau untuk berusaha. Tidak sedikit orang yang menggantungkan nasibnya kepada gugus intelektual seperti mahasiswa. Baik perubahan dalam pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Problem solving dari mahasiswalah yang diharapkan sebagai solusi keterpurukan negeri. Karena mahasiswalah agent of change. Dan, ingatlah, waktu yang terbaik untuk mengawalinya adalah sekarang juga.
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Permisi, mo numpang foto
Komentar oleh Aryo Bandoro 17 Mei 2008 @ 4:26 am