Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Hobby(趣味), Keluarga(家族), Kesehatan (健康), Lingkungan (環境), Pendidikan(教育), Resep Masakan (料理) | Tag: Isam Naoki, istikuma, makanan bayi, MP-ASI
Untuk bayi di bawah umur 12 bln sebaiknya tidak dberikan garam/gula pada makanannya. Karena hanya menjadikan bayi memiliki standar rasa yang lain selain susu/ASI. Hal ini disebabkan sebelumnya bayi hanya mengenal rasa susu/asi.
6 bulan
MAKANAN PERTAMA Yang diberikan:
ASI/ASI perahan
SEREALIA: beras putih, beras merah, havermuth ·
SAYURAN: labu parang, ubi jalar, kentang, kacang hijau, labu, zucchini
BUAH: pepaya, pisang, alpukat, apel, pir
Yang Belum Boleh Diberikan:
DAGING & MAKANAN YG MENGANDUNG PROTEIN, IKAN & KERANG- KERANGAN, SUSU SAPI & PRODUK SUSU OLAHAN
Tipe:
1.Satu jenis makanan saja
2.Semi cair ( dihaluskan atau dibuat puree)
3.Dimasak (kecuali buah tertentu, spt alpukat, semangka dan pisang) (lagi…)
Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Karya (作文), Keluarga(家族), Kesehatan (健康), Lomba (大会), motivasi-inspirasi, Pendidikan(教育), Refresh (笑い話), Sosial Budaya(社会ー文化) | Tag: ASI, ASI eksklusif, ASI Perah, ASIP
Bersyukur atas ASI
Seorang ibu akan senantiasa memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Salah satu yang bisa dilakukan oleh seorang ibu adalah memberikan asupan nutrisi dengan kualitas jempol, bagi si buah hati. Nutrisi dengan kualitas nomor wahid itu tidak bisa dibeli di toko mana pun. Namun Allah memberikan karunia yang luar biasa berupa ASI secara cuma-cuma. Maka, ibu harus bersyukur atas pemberian ini. Bersyukur tidak sama dengan berterima kasih saja. Namun bersyukur juga mempunyai makna memanfaatkan karunia itu semaksimal mungkin.
Aku baru saja melahirkan anak ke dua, tanggal 1 Juli lalu. Isam Naoki Firmansyah nama sekaligus doa kami baginya. Aku sangat bersyukur karena ASI-ku keluar dengan lancar. Aku begitu bahagia bisa memberikan ASI pada Isam. Namun, aku hanya bisa memberikan ASI pada Isam selama 3 bulan. Setelah itu aku akan kembali bekerja.
Nada Kumiko, anak pertama kami dulu full ASI selama setahun. Karena bekerja, terpaksa kuhentikan ASI untuk Nada tepat dua hari setelah ulang tahunnya yang pertama. Aku gantikan ASI dengan susu formula yang dijual di pasaran. Apakah aku akan melakukan hal yang dengan Isam. Apakah hanya 3 bulan saja ASI-ku untuk Isam?
Sebenarnya aku pernah mendengar tentang ASI yang diperas lalu disimpan di (lagi…)
Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Hobby(趣味), Karya (作文), Keluarga(家族), Pendidikan(教育) | Tag: bahasa anak, balita, belajar bicara, celoteh anak, istikuma, Nada Kumiko
Aku sedang sibuk menjemur baju di belakang rumah. Si Naoki sedang tertidur pulas. Tak lama kemudian, Mbak Nada bangun. Rupanya dia nangis, mungkin karena tak mendapati uminya di dalam kamar. Aku mendengar tangisnya itu, otomatis khawatir tangis itu akan membangunkan si adek. Aku pun ke kamar untuk menghentikan tangis Mbak Nada. Eh ternyata, Mbak Nada tidak ada di kamar. Akhirnya kuteruskan lagi jemur pakaian.
“Mama….hiks..hiks….mama.” Suara itu makin mendekat. Ya gitu dech Mbak Nada disuruh panggil ‘umi’ ga mau. Maunya manggil ‘mama’. (lagi…)
Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Hobby(趣味), Karya (作文), Keluarga(家族), Lingkungan (環境), Pendidikan(教育) | Tag: all about japan, anakku, celoteh si kecil, istikuma, Nada Kumiko
Waktu terasa cepat berlalu. Hari-hariku dipenuhi kesibukan, mengurus 2 buah hatiku. Ya, selama 3 bulan ini untuk sementara aku menjadi full mother buat mereka. Kunikmati hari-hari penuh bahagia ini. Bahkan aku tak ingin angkat kaki dari hari-hari ini. Memang bukan hal yang mudah. Mulai pagi menjemput, aku harus siapkan sarapan sekeluarga, mandiin new baby-ku, nyuci piring, nyuci baju, bersih-bersih rumah, menyusui Isam Naoki dan memenuhi “kecerewetan” Mbak Nada….dan masih banyak lagi.
Lelah dan capek mendera. Namun ada rasa terpuaskan dalam batinku sebagai seorang wanita yang kini berstatus “ibu”. Rasa itu bahkan tak bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Sepertinya baru kemarin aku menyusui Mbak Nada, dan kini tiba-tiba aku sudah menyusui anak keduaku. Kini Mbak Nada sudah semakin besar. Dan tak kusangka, dia mulai dewasa. Ketika aku sedang sibuk dengan yang lainnya, Mbak Nada mau menjaga adeknya. Dia mengajar adeknya menyanyi “pok ame ame”, hingga adeknya tertawa. Mbak Nada yang baru berusia 3 tahun, ngerti kalau puser adek kelihatan bisa masuk angin. Maka dia akan menarik baju dan kaos adeknya, sehingga pusernya tertutup. Subhanallah. (lagi…)
Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Keluarga(家族), Pendidikan(教育), Refresh (笑い話) | Tag: bahasa balita, bahasa untuk anak, kata sifat, ucapan lucu anak
Mengajari anak balita berbicara memang gampang-gampang susah. Kata yang paling mudah diajarkan biasanya adalah kata benda (benda-benda riil). Hal ini dikarenakan kita bisa langsung menunjukkan wujud bendanya. Misalnya handphone, langsung kita tunjukkan bendanya.
Kata kedua adalah kata kerja. Kita bisa memberikan pengertian kata kerja dengan langsung menunjukkan praktek dari kata kerja itu. Misalnya mengetik, bisa kita tunjukkan dengan mempraktekkan kegiatan mengetik di depan si kecil.
Kata yang agak susah diajarkan biasanya terkait dengan kata sifat dan kata bantu. Sampai saat ini, anak saya yang berusia 3 tahun lebih masih belum bisa menggunakan kata “sudah” dengan baik.
Pola kalimat 1 : [ Sudah + kata kerja ]
Contoh kalimat : Nada sudah makan. (lagi…)
Si Nada Kumiko merengek ikut abinya beli aqua galon. Namun abinya melarangnya ikut, karena galon itu tidak ringan. Malam-malam, berjalan di jalan raya yang ramai sambil bawa galon dan balita kan bahaya.
Abi Dhony Firmansyah: Di rumah aja Mbak, sama umi ya.
Kumiko meronta-ronta kekeh ingin ikut abinya. Akhirnya kupaksa masuk kamar. Dia pun nangis.
Umi : Sini sayang, sama umi. Peluk umi dong.
Namun Kumiko melepaskan tanganku, sambil geleng-geleng, tetep nangis.
Umi : Ya udah, kalau ga mau umi peluk sana pelukan sama ayam.
Aku pura-pura ngambek dan marah. Tiba-tiba Kumiko menghentikan tangisnya, seraya berucap, “Umi, ayamnya kan mati semua”.
Umi : Oh iya ya, umi lupa.
Glodaks, rada malu neh. OMG! Baru inget kalau ayam peliharaan asisten ibuku di belakang rumah pada mati semua, karena tertular penyakit.
Jumat, 1 Juli 2011.
“Abi, ndak Jumatan neh?” kuhampiri suamiku yang masih sibuk berpacaran dengan PC di kantornya yang sederhana. Kubawakan makan siang, ayam kecap dan onseng jamur-brokoli.
“Bentar lagi umi.” jawabnya tanpa menoleh padaku.
“Mas, makan dulu yuuk…” kulayangkan piring itu di depan wajahnya. Akhirnya dia memutuskan menghentikan aktifitasnya semula.
“Waah, kelihatannya maknyuus neh…” mata suamiku itu berbinar.
“Tapi maaf ya Bi. Kali aja rada ga enak. Soalnya pas masak, perut umi aga kontraksi.”
“Masakan umi pasti maknyuus… kan dikasih bumbu cinta..hehe…”
Kami berdua pun makan sepiring berdua (duuuh…romantis dech..). Setelah itu, suamiku mandi dan bergegas ke masjid. Aku menggantikan posisi suamiku. Bukan bekerja, tapi tentu saja ber-pesbuk ria, hehe…
Kutuliskan komentar di status beberapa teman, salah satunya status uncle Dang Aji Sidik (creator UNSA) tentang kontraksi yang durasinya makin pendek.
Tak berapa lama, suamiku pulang dari sholat Jumat. Melihatku memejamkan mata, berpegangan erat pada kursi, dia pun mendatangiku.
“Umi, umi ga papa. Umi mau melahirkan ta?” (lagi…)
Bermain adalah dunia anak. Sementara permainan sendiri banyak ragamnya, dan tidak semuanya bernilai sama di mata kesehatan. Tidak dapat dipungkiri, tuntutan jaman membuat permainan anak menjadi serba teknologi, sehingga yang dibutuhkan anak untuk memainkannya hanyalah duduk dan membuat kesempatan untuk menggerakkan sekujur tubuh kian minimal. Itulah yang menyebabkan anak kebanyakan kini menjadi obesitas dan kurang sehat.
Namun ada jenis permainan yang banyak bergerak sekaligus menyehatkan anak Anda, permainan-permainan ini dibagi sesuai dengan rentang umur anak Anda:
A. Usia satu setengah tahun hingga dua tahun
Permainan ini bisa dilakukan saat buah hati Anda mulai dapat bergerak, berjalan dan berlari dengan benar. Umumnya hal ini dilakukan saat anak berusia 1,5 hingga 2 tahun. Tetapi yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan anak Anda saat mereka bermain. (lagi…)
Alhamdulillah, kado terindah menjelang kelahiran buah hatiku yang kedua. Sangat cocok sebagai pegangan untuk calon ibu yang akan melahirkan. Dan tentunya referensi jempol untuk semua.
——————————————————
Judul : Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri (1001 Rasa dari Sumatera sampai Australia)
Seri : Kesehatan
Penulis : Qonita Musa & Naqiyyah Syam dkk
Penerbit : ELEX MEDIA
SINOPSIS
Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.
Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini. (lagi…)
Filed under: Dedek Diary (久美子日記), Keluarga(家族), Pendidikan(教育), Sosial Budaya(社会ー文化)
Apakah Anda heran bila mendengar kata-kata seperti “Anak saya hobby banget membaca, tak pernah sehari pun dia lewatkan tanpa membaca. Anak saya berusia 15 bulan” ? Atau kata-kata seperti “Anak saya sudah qatam lebih dari 10 buku di usianya 10 bulan” .
Ketika saya mengucapkan hal senada, acapkali lawan bicara saya akan mengernyitkan dahinya, “Hah, membaca? Emang seusia segitu bisa baca? Emangnya sudah bisa bicara?” atau “masak? anak saya saja, baru bisa bicara usia 3 tahun-nan. Belajar baca ya mulai usia 4 tahun”. Dan masih banyak nada tak percaya yang lain. (lagi…)








