Allahu Akbar
アッラーは至大なり (4回繰り返す)
Asyhadu alla ilaaha illallah
我は証する、アッラーの他に神のなきことを (2回)
Asyhadu anna Muhammadar rasulullah
我は証する、ム八ンマドはアッラーの御使いであることを (2回) (lagi…)
Filed under: Hobby(趣味), Islam(イスラム), Karya (作文), Lingkungan (環境), Sosial Budaya(社会ー文化) | Tag: di negeri sakura, gaya anak muda, gaya muda jepang, kerudung, wakamono
DEAR DIARY……..
Diary-ku, aku ga ngerti gimana diri ini harus membalas jasamu. Saat senang, sedih, duka, bete, bahagia, kaulah rekan yang pertama kali kuceritain. Meski tak bisa bicara. Hanya memandangmu, menggores tinta di lembaranmu, menulis ‘Bismillah’ dengan penaku, aku udah merasa mendapat sahabat di kala sepi dan sunyi. Andai semua manusia sepertimu. Menerima apa adanya. Dear Diary, kau punya sejuta kisah, tapi tak sepatah katapun, kau membuka aib sesama.
Dy, aku harap kau tidak bosan dengan semua cerita yang aku tulis di benakmu. So pasti deh…karena, udah 2 minggu kita ga ketemu. Baru sekarang nih aku bisa bersua lagi dengan Diary-ku tersayang. Jangan ngambek ya…Diary, ini adalah sekelumit pengalaman yang sahabatmu dapatkan selama 2 minggu tinggal di negeri Sakura. Pasti kamu ngerti deh dimana tuh. Iya tempat asalnya Conan Edogawa. Hihihi… Dy, pas aku tiba di Chubu International Airport, Jepang, sahabatmu ini dijemput ama pemudi Jepang yang selidik punya selidik bernama Hiromi. Lucu deh, dengan penampilan yang acak-acakan. Aku pikir dia baru aja bangun tidur, dan ga sempat dandan. Apa mungkin terburu-buru mau jemput aku? Apalagi rambutnya awut-awutan dan celananya belel. (lagi…)
Jumat, 1 Juli 2011.
“Abi, ndak Jumatan neh?” kuhampiri suamiku yang masih sibuk berpacaran dengan PC di kantornya yang sederhana. Kubawakan makan siang, ayam kecap dan onseng jamur-brokoli.
“Bentar lagi umi.” jawabnya tanpa menoleh padaku.
“Mas, makan dulu yuuk…” kulayangkan piring itu di depan wajahnya. Akhirnya dia memutuskan menghentikan aktifitasnya semula.
“Waah, kelihatannya maknyuus neh…” mata suamiku itu berbinar.
“Tapi maaf ya Bi. Kali aja rada ga enak. Soalnya pas masak, perut umi aga kontraksi.”
“Masakan umi pasti maknyuus… kan dikasih bumbu cinta..hehe…”
Kami berdua pun makan sepiring berdua (duuuh…romantis dech..). Setelah itu, suamiku mandi dan bergegas ke masjid. Aku menggantikan posisi suamiku. Bukan bekerja, tapi tentu saja ber-pesbuk ria, hehe…
Kutuliskan komentar di status beberapa teman, salah satunya status uncle Dang Aji Sidik (creator UNSA) tentang kontraksi yang durasinya makin pendek.
Tak berapa lama, suamiku pulang dari sholat Jumat. Melihatku memejamkan mata, berpegangan erat pada kursi, dia pun mendatangiku.
“Umi, umi ga papa. Umi mau melahirkan ta?” (lagi…)
Filed under: Berita (ニュース), Islam(イスラム), Lingkungan (環境), motivasi-inspirasi, Pendidikan(教育)
Miris dengan nilai kejujuran yang dianggap remeh oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Bukan sebuah rahasia, jika ujian sekolah bahkan ujian nasional diwarnai dengan kegiatan contek-mencontek. Mulai dari tingkat pendidikan bawah sampe tingkat pendidikan paling atas. Seorang pejabat mengatakan “Contekan massal tidak terbukti”. Sebenarnya, definisi contekan massal itu apa sih? Apakah contekan yang diorganisir? Atau contekan yang dilakukan bersama-sama? Contekan yang dilakukan oleh banyak orang?
Telah terbit di LeutikaPrio!!!
Judul : Selaksa Makna Ramdhan
Penulis : Dang Aji, Tridju Pranowo, dkk
Tebal : iv + 291 hlm
Harga : Rp 56.400,-
Alhamdulillah. Benar-benar anugerah dan kado terindah di hari bahagia saya. Tepat tanggal 28 April 2011, pas milad saya, buku “keroyokan” ini diterbitkan. Buku ini berisi kumpulan cerpen dari 200 penulis anggota group Untuk Sahabat. Cerpen pendek saya berjudul “Puasa 16 Jam” dengan setting Jepang ikut terselip di dalamnya.
Sinopsis:
Begitu beragam inspirasi yang bisa dimaknai dalam bulan suci Ramadhan. Sebuah bulan mulia yang sengaja Allah turunkan bagi keberkahan seluruh umat islamdi atas bumi. Inspirasi-inspirasi itu coba dibagi oleh para penulis dalam buku sederhana ini. (lagi…)
Filed under: Buku (本), Islam(イスラム), Karya (作文), Keluarga(家族), motivasi-inspirasi, Pendidikan(教育)

Judul : Menjadi Pemenang Kehidupan
Penulis : Dhony Firmansyah dan Istikumayati
Penerbit : Leutika
Halaman : 224 halaman ++
Harga :Rp. 45.000,-
Rapi dan terstruktur, itu kesan pertama ketika membuka-buka buku ini sebelum membacanya. Dan memang seperti itulah buku ini. Ketika membaca biodatanya, ter yata pengarang sudah sejak SMA berkecimpung di dunia tulis menulis, menjadi redaktur pelaksana sebuah buletin. (lagi…)
Filed under: Buku (本), Islam(イスラム), Karya (作文), Keluarga(家族), Materi Pembelajaran (教材), motivasi-inspirasi, Pendidikan(教育), Sosial Budaya(社会ー文化)
Semenjak bertemu dengan Jamil Azzaini, suamiku mulai keranjingan membaca buku motivasi. Dari apa yang dia baca, selalu didiskusikannya denganku. Awalnya aku nggak seberapa ngeh (ngerti).
Halah wong motivasi biasa aja gitu. Memang apa yang special? Toh ga ada jaminan setelah dimotivasi, orang akan berubah semangat. Karena semangatnya ya, saat dimotivasi aja. Ketika berbenturan dengan fakta, kembali lagi kayak biasa.
Itu yang sering ada di pikiranku tentang dunia motivasi, inspirasi dan entrepreneurship (yang terakhir ini malah blas tidak mengerti). Namun, tak henti-hentinya suamiku berbincang dengan tema-tema tersebut. Bahkan, suamiku tidur dengan buku yang menelungkup di dadanya. Aku jadi penasaran. Apa sih hebatnya Buku “Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia”? Akhirnya aku ambil buku tersebut, dan aku pun tertarik dengan kisah-kisah inspiratif di dalamnya. Langsung aku praktekkan untuk menyemangati siswaku di sekolah. Hasilnya, banyak siswaku yang mulai bersemangat meski PR seabrek.
Pada akhir tahun 2009, tiba-tiba suamiku berkata, “Umi, abi ingin membuat buku motivasi. Nanti umi ikutan nulis ya?”
“Ah, abi umi kan ngga pandai nulis. Abi aja yang nulis, kan abi biasa nulis. Umi doakan aja ya!”.

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.
Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?
Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”
Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “. (lagi…)









